Jakarta Fashion Week 2018: Jenahara Black Label SS 2018

Akhirnya Jakarta Fashion Week 2018 dimulai juga. Ini adalah tahun ke 10 di adakannya Jakarta Fashion Week. Gak kerasa ya udah 10 tahun aja. Walaupun buat aku sendiri, ini adalah tahun ke 3 aku hadir di beberapa acara fashion show di Jakarta Fashion Week.

Di hari pertama Jakarta Fashion Week 2018 kali ini, aku mendapatkan undangan untuk menghadiri acara fashion show dari Jenahara Black Label.

Fashion show Jenahara ini sendiri adalah bagian dari fashion show “THE AUSTRALIAN EMBASSY present CHRIS RAN LIN, JENAHARA, and MONDAY TO SUNDAY” yang di adakan di Fashion Tent JFW 2018.

Jenahara Black Label hadir sebagai pembuka acara. Berbeda dari sebelumnya, fashion show kali ini diiringi dengan suara peperangan. Merinding bener. Serius deh.

Satu per satu model berjalan di runway diiringi suara peperangan, derap lari, tangisan, suara mortir dan suara mesin tembakan yang berderu-deru mencekam. Membuat kita seakan-akan berada di area pertempuran.

Rupanya, ini sejalan dengan tema tema “Reverie” yang menunjukkan perempuan tangguh dan kuat di medan perang. Jadi konsepnya memang ingin menunjukkan perempuan kuat yang ada di medan perang, seperti Palestine dan Suriah. Pantesan background dan dan backsound yang di tampilkan adalah suasana peperangan.

Kali ini, Jenahara ingin menggambarkan perempuan-perempuan tangguh yang berada di masa perang dan krisis, yang rapuh namun tetap harus kuat untuk diri mereka sendiri dan anak-anaknya. Pernyataan ini mengandung pesan bahwa dalam masa perang dan krisis, perempuanlah yang paling banyak menjadi korban.

Walaupun demikian, ini juga menjadi pernyataan secara lebih umum mengenai kekuatan seorang peremuan, yaitu “Perempuan, siapapun dan dimanapun pasti berada dalam peperangannya masing-masing dan baginya, berjuang adalah sebuah keharusan dan berdiam diri bukanlah sebuah pilihan.

Konsep yang diusungnya ini, diterjemahkan ke dalam koleksi berwarna army look yang sangat identik dengan medan perang. Ia menampilkan antara lain jaket parka tipis, detail kantong-kantong yang menonjol, serta detail logam (sterling silver), kemeja putih, apron skirt, dan detil lipit serta lengan yang menjadi ciri khas Jenahara.

Di koleksi ini, Jenahara juga menampilkan pakaian dari bahan katun dan sutra dengan kain batik Tritik berwarna terang. Menurutnya, kain batiknya sangat bagus karena menggunakan pewarna alami. Kain batik Tritik (jahit-celup) ini dibuat oleh salah satu pengusaha tekstil yang juga tergabung dalam Australia Awards.

Di show kali ini, hadir juga 2 orang model laki-laki. Ternyata, Jenahara menghadirkan dua model tersebut karena ia ingin memberitahu bahwa beberapa koleksinya juga bisa dikenakan oleh laki-laki. Jadi bukan hanya wanita saja. Terlihat dari model laki-laki yang berjalan berdampingan dengan model wanita dan keduanya mengenakan coat yang sama.

Oh iya. Sesuai dengan concern Jehan mengenai krisis kemanusaiaan yang sedang terjadi saat ini, ia juga ingin ikut membantu dengan menyumbangkan 10 persen penjualan dari koleksinya.

Overal, ini adalah fashion show dan koleksi yang sangat berkesan.

Terima kasih ya Jenahara untuk undangannya. 🙂

See you on the next post.

All picture is taken by me unless stated below the picture.

DO NOT COPY AND PASTE THE CONTENT, INCLUDE THE PHOTOS WITHOUT PERMISSION.

Copyright of rachanlie.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *